Jumat, 06 Maret 2020

pendidikan konsultan hukum dan ahli kepabeanan



Konsultan Hukum Pajak dan Kepabeann



pelatihan ekspor yang di selenggarakan Bank Indonesia


bersama Ketua GPEI Jateng, Kepala Perwakilan Bank Indonesia, Ketua DPP GPEI Pusat, Kepala Dinas Perdgangan Propinsi Jateng


Bersama pengurus GPEI Jawa Tengah

nara sumber pelatihan ekspor

JURI FINAL PERADILAN SEMU



Tim Juri final terdiri dari unsur Hakim Pengadilan Tinggi. Jaksa (Kepala Kejaksaan Negeri), Advokat (Peradi)

Tim lengkap terdiri dari : Unsur Advokat, Hakim PT, Guru Besar Undip, Kejaksaan


foto di ruang transit Juri Peradilan Semu, (Jaksa Kejati, Hakim PT, Advokat, Hakim PN)

Minggu, 07 Januari 2018

Kegiatan setelah pensiun PNS




Masa Pengabdian sebagai PNS
             1 Desember 2016 adalah tanggal aku mengakhiri pengabdianku di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.  Pengabdian yang kuawali dengan skep per tanggal 1 Desember 1977, sehingga genap 39 tahun masa pengabdian. Berawal dengan pangkat Juru Muda Tk I Golongan I B dan diakhiri dengan pangkat Pembina Utama Muda Golongan IV C. berbekal dengan ijazah SMP di awal Pengabdian dan diakhiri dengan ijazah  Doktor (Strata 3). berawal sebagai pelaksana dan diakhiri dengan jabatan Kepala Bidang yang sebelumnya sebagai Kepala Kantor tipe Madya. Kesemuanya kuperoleh karena kuatnya perjuangan, sekali lagi perjuangan.


Perjuangan di masa pensiun PNS
            1 bulan menjelang pensiun saya mempersiapkan diri membentuk persekutuan perdata dengan beberapa kawan dalam wadah Perkumpulan Konsultan Managemen and Law Firm. Kegiatan konsultan ini sebenarnya tidak semata mata karena masih kuatnya keinginan bekerja, melainkan karena kuatnya keinginan melakukan kegiatan pengabdian tertutama pengabdian di ranah ilmu hukum yang dilengkapi dengan manajemen.
           Perkumpulan ini menghantarkan saya menjadi calon penasihat KPK dalam 34 orang.dari 3256 orang yang kemudian 15 orang dari 34 orang. saat wawancara akhir hasilnya belum beruntung. Demikian pula bersamaan dengan seleksi calon penasihat KPK saya juga mengikuti seleksi Calon Hakim Konstitusi yang tahap wawancara terakhir berjumlah 11 orang dan juga hasil akhirnya belum beruntung. Ketidak beruntungan ini mengingatkan saya akan seleksi Calon hakim agung yang saya ikuti pada tahun 2015 dan 2016 yang kesemuanya berakhir pada wawancara terakhir. Aku menyikapi kesemuanya dengan perasaan dan pemikiran bahwa Tuhan masih belum mengijinkan aku mengabdi pada periode-periode itu atau Tuhan masih berkehendak lain.
            Panggilan untuk tetap mengabdi terus bergema sehingga dengan sertifikat kompetensi yang ada saya menjadi Kuasa Hukum Pengadilan Pajak dengan Keputusan Ketua Pengadilan Pajak, demikian pula saya mengikuti pendidikan Auditor Hukum dan lulus dengan serifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi, kuikuti pula ujian profesi advokad dan lulus pada tahun 2017 juga. Ditahun 2017 pula saya menjadi pembimbing disertasi calon Doktor pada Universitas Negeri dan Universitas swasta, sekaligus juga sering menerima panggilan menjadi narasumber pembahasan undang-undang khususnya undang-undang Pajak, Kepabeanan dan Cukai.



Mengkuti berbagai seleksi
               Seleksi-seleksi yang kuikuti: tahun 2013 mengikuti seleksi calon Pimpinan KPK, 2015 seleksi Calon Hakim Agung, 2016 Seleksi calon Hakim Agung, 2017 Seleksi calon Penasihat KPK dan seleksi Calon Hakim Konstitusi penunjukan Presiden. Kegagalan demi kegagalan ternyata tidak meruntuhkan niatku untuk terus maju dan berjuang, apalagi kegagalannya hampir semuanya di tahap akhir setelah saya mengikuti tahap demi tahap yang sangat-sangat melelahkan. Lebih aneh lagi ternyata saya bisa menghadapi kegagalan ini dengan senyum dan tetap puas bahwa aku telah berjuang untuk diri sendiri dan keluarga.
                Kepuasanku ternyata terletak pada proses perjuangan bukan output perjuangan, proses aku belajar, mengindentifikasi, melihat kedalam terhadap rekam jejak dan juga kuatnya doa. semuanya telah kulakukan. Saya tidak mencari lahan pekerjaan karena sesungguhnya pekerjaan itu sendiri telah kuciptakan dengan menjadi konsultan, tetapi aku mencari lahan pengabdian yang luhur dan mulia. Dari sisi hasil kemungkinan dengan menjadi konsultan, kuasa hukum dan auditor hukum lebih menjanjikan daripada yang lain. Inilah kegiatanku selama masa pensiun sebagai PNS. semoga semangat juangku menurun pada anak-anakku.


Minggu, 10 Juli 2016

Komisi Yudisial periode 2016, ungkapan terbuka



Terimakasih Komisi Yudisial

Keberanian mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih di blog pribadi mudah nudahan tidak dibaca sebagai hal yang cengeng namun lebih padahal ungkapan yang harus dinyatakan terbuka biat tidak melupakan kebaikan.
              Periode 2015 dan 2016 saya mengikuti seleksi, namun pada periode 2016 ini saya sangat bersimpati, para panelis hampir semuanya memancarkan keramahan disaat aku tidak dapat mengelak diri dari ketegaangan dan grogi (hal yang sangat biasa saat berperan sebagai orang yang diuji/ faktor psikologis). Hal yang sangat bagus adalah ketika ketua panelis mempersilahkan peserta jika ingin berdoa (masalah apakah doanya terjawab atau tidak itu masalah lain), artinya sejak dari awal mulai dari salam,  pimpinan sidang sudah melibatkan peran Tuhan (Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa...), persis sama dengan yang aku tulis dalam makalah bahwa kesemuanya diawali dengan kecerdasan spiritual dan emosial, baru tindakan lain menyusul.
                 Saya akui, justru diawal aku tersandung pertanyaan yang tidak kuketahui arahnya sehingga jawaban menjadi tidak memuaskan (semula ada sedikit suu'dhon kalau aku sengaja di jatuhkan, namun prasangka buruk tersebut tertepis denga senyum ramah dan sapaan santun yang mengatakan "masih di Semarang Pak). Demikian juga dengan panelis satu satunya wanita, wajah dan suaranya menjadikan adem bahkan kalau orang jawa bilang Nyes/ sejuk sekali, meski pertanyaannya bisa berarti tajam dan menyobek, namun hasil jawaban yang berupa klarifikasi terbuka saya sampaikaan apa adanya, masalah di percaya atau tidak saya yakin integritas dan nurani seorang ibu lebih bisa merasakan. Panelis lain dapat saya sampaikan hampir kesemuanya sangat bagus, jauh lebih bagus di banding pada periode 2015 (Pak Ibrahim, sangat -sangat bagus).
                 Ada hal yang menarik tapi mungkin lazim terjadi pada seorang yang berperan ditanya atau di minta penjelasanya, bahwa awal pertanyaan yang membuat orang tersandung secara psikologis sangat mempengaruhi jawaban berikutnya, hal itu memang benar-benar terjadi, karena hal-hal yang sangat aku hapal dan mengerti bisa menjadi hampa (blank) atau hilang begitu saja dari ingatan. Kucoba menganalisa mengapa bisa begitu, apa karena pengaruh usia, apa karena pengaruh tekanan sebelumnya, karena akan sangat berbeda jika pertanyaan tersebut dalam bentuk tertulis.
                   Dari kesemuanya yang saya tulis di awal, saya perlu menyampaikan ungkapan syukur bahwa apa yang saya terima saat ini sudah melebihi angan-angan, atau Tuhan telah memberi anugerah melebihi yang saya angan-angankan (Ultra petita), Matur nuwun Gusti paringane ganjaran :
1. Dapat bekerja selama 39 Tahun sebagai PNS (tidak semuanya bisa mencapai masa itu)
2. Bisa senantiasa sehat
3. Tidak hanya menjadi sarjana, tetapi bisa menjadi master bahkan doktor
4. Dikaranui kerukunan keluarga yang sangat luar biasa (tidak pernah bertengkar)
5. Kehidupan spiritual yang kualitasnya cukup baik
dan masih banyak lagi ganjaran yang dikaruniakan termasuk ganjaran bisa mengikuti seleksi calon hakim agung bahkan bisa mencapai tahap akhir sampai 2 kali, ini termasuk anugrah Illahi.
                   Motto pegangan saya adalah   Ikhitiar iku yekti pamilihe reh rahayu, anangin amung Gusti kang ngijabahi ( Usaha keras itu wajib dilakukan tujuannya untuk mencapai kesejahteraan, namun  demikian hanya Tuhan yang mengijinkan), Saya pikir-pikir mooto ini mirip dengan motto Ibu Sukma Violetta, SH, LLM yang berbunyi " berikhtriar seoptimal mungkin dan untuk hasilnya berserah diri kepada Tuhan.
Dalam laku spiritual doa malam saya sering melihat bahkan saya tulis dalam status FB tentang Lintang panjer esuk kang mandangi lan dadi pandom wong kang lumaku ing tengah wengi" kayaknya mirip juga dengan motto hidup Dr Aidul Fitriciada Ashari, SH, M.Hum. Ungkapan simpati dan penghargaan juga saya sampaikan kepada Pak Sasmito termasuk salam dari Istri dan anak-anak saya Pak, Pak Maradaman Harahap dan Pak Sumartoyo (meskipun hanya sekilas saya sangat bersimati Pak). Pak Jaja Ahmad Jayus sekaliugus Pak Farid Wajdi Terimakasih, saya bersimpati.
                     Tulisan ini sengaja saya buat tidak dalam bentuk sampul tertutup tetapi saya buat pada blog sebagai bagian dari keterbukaan daan berani mengungkapkan secara terbuka dan transparan, namun tetap tidak mengganggu independensi komisioner Komisi Yudisial RI karena pada kesempatan berikutnya saya sudah tidak bisa lagi. (Foto hanya menggambarkan semangat menimba ilmu yang tidak pernah habis)